Menyikapi Masalah

Kita tidak bisa bebas dari masalah.

Hidup kita ternyata diisi dengan masalah. Kabar baiknya adalah, hidup tidak akan menarik tanpa masalah. Orang yang tidak punya masalah, mungkin tidak sedang menjalani hidup. Jika ada orang yang merasa tidak punya masalah, mungkin ada yang salah di kehidupannya.

Jika saat ini salah satu dari kita merasa hidupnya berat, atau terbebani penat, atau mungkin merasa jerih payahnya sia-sia, penting untuk mengingat satu hal ini: masalah harus selalu ada, untuk diselesaikan. Masalah membuat kita menyesuaikan diri dengan dunia. Meng-upgrade diri kita. Memperbaiki kepribadian kita. Bayangkan, jika tidak ada masalah dalam kehidupan Thomas Alva Edison, mungkin kita masih memakai obor sampai saat ini. Masalah-masalah yang muncul akan memaksa kita untuk meningkatkan taraf kehidupan kita sendiri.

1488a9cc7d7cc7dfbe63c782f3f9bba8

Adalah sia-sia jika kita merasa punya masalah lebih berat dari orang lain.

Bagi orang yang berkecukupan, kehidupan orang-orang yang kurang mampu terlihat sederhana. Cukup memikirkan hari ini dapat uang berapa, makan apa, anak-anak dikasih uang jajan, besok mau melakukan apa. Mungkin sesekali memikirkan cicilan rumah atau motor. Sederhana, tanpa kerumitan. Ibarat anak SD yang tidak perlu repot-repot memikirkan teknik perhitungan kalkulus.

Begitu juga sebaliknya dengan orang yang kehidupannya sederhana. Orang-orang kaya yang intelek dan hidup serba cukup terlihat nyaman. Bepergian dengan kendaraan bagus, bisa liburan ke luar negeri dengan pesawat, tidak perlu memikirkan cicilan hutang ini-itu, anak-anak bisa sekolah di tempat yang terbaik. Sama seperti mahasiswa yang semalaman tidak tidur untuk mengerjakan tugas, melihat anak SD yang bisa main dengan bebas, cuma takut dengan omelan ibu.

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman rumah sendiri.

Semua orang punya masalah sendiri dengan taraf yang berbeda-beda.  Atau dengan kata lain, semua orang punya masalah. Kita tidak perlu merasa rendah, kita tidak perlu merasa minder atau lebih jelek dari orang lain. Ternyata kita semua adalah sama.

Sama-sama orang yang bermasalah.

Kita akan tetap bahagia, sekalipun ditengah-tengah masalah. Badai pasti berlalu, malam pasti akan berganti pagi. Dengan berdiri tegak menghadap ke depan, kita bisa bertahan.

 

Suatu catatan random, penghibur diri sendiri.

 

Perubahan

Selamat malam dari Kota Kembang.

Dini hari yang dingin, tenang setelah ditinggal hiruk pikuk malam minggu. Acara musik di kampus sebelah sudah berhenti dua-tiga jam yang lalu. Saya masih berada di depan laptop, mengerjakan perhitungan untuk penelitian yang entah selesainya kapan. Tanpa terasa tahun ketiga saya di sini sebentar lagi usai.

Bohong jika saya mengatakan bahwa saya yang sekarang adalah sama dengan yang tiga tahun lalu. Tidak juga benar jika saya sudah berubah. Mungkin kita perlu menyepakati apa saja perubahan yang sudah terjadi pada tahun-tahun belakangan.

Sekarang saya sudah tahu persis kemana saya harus melangkah. Sekarang saya sudah tahu persis apa yang saya perlukan. Sekarang saya sudah tahu persis apa yang saya “tahu”.

Ah rindu rasanya menulis bebas. Kembali seperti tahun-tahun yang lalu. Tulis saja apa yang dipikirkan, tak perlu memikirkan pendapat orang. Tak perlu khawatir dengan pencitraan. Tidak juga perlu takut dengan deadline pekerjaan.

Satu perubahan yang paling saya rasakan sekarang adalah: kini saya sangat akrab dengan secangkir kopi panas.

Tali Sepatu

Agustus telah pergi. Bulan penuh kebahagiaan bagi beberapa orang teman saya, yang menikah di bulan itu.

Tidak, saya tidak pernah risau dengan banyaknya orang di sekeliling saya yang menikah terlebih dahulu, termasuk mantan pacar. Tentunya saya tidak diundang, tapi saya tetap berbahagia. Saya tidak merasa harus mengejar waktu (apanya yang mau dikejar?) untuk segera menikah. Seringkali saya heran dengan wanita-wanita usia pertengahan dua puluh yang begitu resah karena tak kunjung melenggang ke pelaminan. Bahkan di antaranya punya pasangan saja tidak. Ada yang beralasan biologis (fungsi reproduksi menurun jika memasuki usia tiga puluh), dan tidak sedikit yang beralasan sosial.

Tidak, saya tidak ikutan begitu. Seperti kebanyakan lelaki lainnya, saya tidak punya tuntutan sosial harus menikah di usia tertentu. Ayah saya menikah di usia 29 tahun, contohnya. Bahkan teman dekat saya tidak lama lagi akan menikah dengan pria yang berusia 36 tahun (masih ganteng, by the way). Saya juga punya target pencapaian yang harus saya raih, yang membuat saya tidak terlalu memikirkan pernikahan. Faktor lainnya tentu saja finansial. Saya masih berstatus mahasiswa pascasarjana, belum punya pekerjaan tetap, dan tidak punya tabungan yang cukup.

Bagaimanapun agustus lalu tetap mengusik saya.

Tidak kurang dari enam undangan pernikahan tertuju pada saya, dimana lima di antara mempelai pria adalah teman saya, yang seusia.

Lima.

Dan saya tahu dalam waktu dekat beberapa lagi akan menyusul.

Dan entah perasaan darimana, saya tahu giliran saya yang akan menyusul.

“Jangan sampai lupa ya, Dhe” pesan sahabat saya yang menikah pertengahan agustus lalu, tidak ingin saya keasikan belajar dan meniti karir. Padahal dilihat dari spesifikasi manusia, beliau adalah tipe ambisius dalam pendidikan dan karir (dan berprestasi!) yang tidak pernah pacaran. Dinasehati seperti itu rasanya agak janggal.

Kalau saya tidak salah memahami, sudah ada beberapa tanda-tanda alam yang muncul. Mulai dari buku-buku tentang pernikahan yang entah darimana muncul di pandangan mata, sampai pembicaraan tentang kehidupan pernikahan yang secara sengaja maupun tidak, merambat ke telinga.

Ah sudahlah.

Semua akan datang waktunya, termasuk pernikahan.

Yang jelas saya akan menikah dengan orang yang tepat, di tempat yang tepat, di waktu yang tepat dan dengan alasan yang tepat. Sekarang yang perlu saya lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk orang yang tepat itu, si wanita yang luar biasa. 

Tapi mungkin saya sudah terlalu lama berjalan. Mungkin saya perlu berhenti sejenak. Duduk, membenarkan dan mengencangkan kembali simpul tali sepatu yang longgar. Lalu siap-siap berlari.

 

Bandung, dini hari. Di tengah PR Kimia Kuantum dan secangkir kopi pahit.

Pekanbaru, Cerita Singkatnya

Jika liburan saya kali ini direpresentasikan dengan gambar, beginilah.

image

Bukan, bukannya tidak ada sinyal sama sekali, tapi memang cukup parah sinyal kartu GSM saya di sini (yang kalau di Bandung bagus sekali).

Saya berada di ruang tunggu Bandara Sultan Syarif Kasim II, bersiap untuk kembali ke Bandung. Masih terasa pelukan hangat dari kedua orang tua yang seakan tidak rela melepas saya pergi jauh, terlebih lagi saya sudah memutuskan untuk tidak tinggal di Pekanbaru lagi.

Hari-hari liburan kemarin saya puaskan untuk menikmati rumah dan kemewahan yang tidak saya rasakan di perantauan: Keluarga. Kewajiban saya di Bandung memaksa saya untuk kembali. Tepat di tanggal keberangkatan saya setahun yang lalu.

Farewell, Pekanbaru.

Posted from WordPress for Android

Inisial

 

Belakangan ini salah satu program televisi favorit saya adalah Tetangga Masa Gitu? yang tayang di NET setiap Sabtu dan Minggu petang. Faktor Chelsea Islan membuat saya selalu setia mengikuti serial sitkom yang bercerita tentang keseharian dua pasang suami istri yang bertetangga. Adi (Dwi Sasono) dan Angel (Sophia Muller) adalah pasangan suami istri tanpa anak yang telah menikah selama 10 tahun sedangkan Bastian (Deva Mahenra) dan Bintang (Chelsea Islan) adalah pengantin baru yang sedang mesra-mesranya.

Episode hari ini bercerita tentang kedatangan Freddy, teman sekantor Angel ke rumah Adi. Freddy yang dingin dengan segera membuat Adi yang garing salah tingkah. Pada Angel, Freddy bercerita bahwa ia baru saja diputuskan pacarnya karena sikapnya yang dingin.

Sementara itu Fiona, sepupu Bintang datang menginap di rumah Adi. Fiona sedang bersedih karena baru putus dengan pacarnya, yang dianggapnya adalah jodohnya. Mereka memiliki minat yang sama, pemikiran yang sama bahkan inisial nama yang sama. Franky dan Fiona, berjodoh bukan? Bastian pun dengan cepat mengamini karena inisialnya sama dengan istrinya, Bintang. Singkat cerita, Angel yang mengetahui tentang Fiona dari Bintang pun segera merencanakan perjodohan antara Freddy dan Fiona, yang ditentang oleh Adi.

Kecocokan jodoh karena inisial nama yang sama.

Batin sayapun tergelitik.

Yang Saya Pelajari Tentang Cinta

“Apa yang dimaksud dengan cinta?”

Tahun lalu, seseorang bertanya pada saya. Tak mau salah jawab, saya memilih menjawabnya secara teoritis dengan mengutip buku kuliah Ilmu Budaya Dasar  yang matakuliahnya saya ambil di semester dua.

Cinta adalah perasaan tergila-gila dengan sesuatu, dan ingin memilikinya.

Menurut saya, definisi ini lebih gampang dicerna daripada penjelasan lain yang pernah saya baca. Lebih masuk akal daripada yang tersurat di film-film romantis. Tentu saja lebih mudah dipahami jika dibandingkan dengan definisi yang dipaparkan Dee Lestari dalam novel Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.

Ya, cinta adalah perasaan tergila-gila pada sesuatu, dan ingin memilikinya. Hal ini sejalan dengan pemikiran senior saya, yang mantap mengatakan:

Cinta itu harus memiliki. Bila ada yang mengatakan tidak, itu hanya alasan bagi orang-orang yang kalah.

Namun orang itu tidak sependapat dengan saya. Jawaban teoritis saya, walaupun sempat dipertimbangkan akhirnya mentah. Definisi cinta menurutnya tidaklah semudah itu.

Malam itu saya menyadari, ternyata saya (seperti kebanyakan orang lain) tidak mengerti apa itu cinta. Ternyata saya tidak paham. Atau mungkin, saya hanya tidak memahami dia.

Seharusnya saya menulis review tentang film Transformers 4 yang sudah saya tonton dua hari yang lalu, tapi entah mengapa saya malah teringat pertanyaan itu. Pertanyaan yang datang dari satu tahun yang lalu. Apa yang dimaksud dengan cinta?

Saya pun teringat, kemarin siang saya menonton televisi yang menayangkan program tentang kehidupan orang-orang yang hidupnya kurang beruntung. Seorang kakek-kakek mengayuh sepedanya dengan susah, untuk berkeliling menjajakan makanan yang dibuat istrinya. Sepulang berjualan, ia memberikan hasil penjualan pada sang istri, dan mereka makan bersama.

Tidak ada satupun “tergila-gila” di sana. Tidak ada. Tapi saya melihat begitu banyak cinta. Begitu dalam, dan begitu tulus. Ternyata cinta bukanlah perasaan yang ingin memiliki sesuatu. Cinta bukanlah keinginan untuk memiliki bahkan menguasai.

Ternyata cinta adalah tanggung jawab yang tulus.

Ya, ternyata cinta adalah tanggung jawab. Tanggung jawab yang tulus. Dan itu berlaku secara universal, tidak terbatas pada hubungan pria-wanita yang dangkal.

Banyak film dan drama yang mendeskripsikan cinta sebagai rasa tertarik pada lawan jenis, lalu berusaha mati-matian demi menyenangkan orang yang dia cintai. Tidak, cinta sama sekali bukanlah itu. Cinta bukanlah hasrat untuk berkembang biak.

Sepasang suami istri yang telah hidup bertahun-tahun, secara fisik tidak lagi kuat dan tidak lagi menarik tetapi masih menjaga satu sama lain. Saling mengerti. Saling membantu. Saling setia. Hal ini mungkin diistilahkan dengan komitmen, tapi menurut saya tidaklah sedingin itu. Saya tidak percaya dengan komitmen. Bagi saya, komitmen terdengar seperti kontrak yang tidak bisa dilanggar.

Lihatlah cinta yang ada pada orang-orang seperti itu. Adakah terasa panas membara? Adakah terlihat penguasaan satu sama lain? Yang saya lihat hanyalah kehangatan dan ketulusan. Tentu saja ada tanggungjawab di sana.

Definisi ini bisa diterapkan dalam cinta kepada kedua orang tua. Bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan orang tua pada kita. Dapat hidup mandiri, dan menjadi pribadi yang mereka harapkan. Orang tua tidaklah mengharapkan balasan atas apa yang mereka berikan pada kita, tapi kita tetap harus menunjukkan bahwa keputusan mereka untuk melahirkan kita tidaklah salah.

Cinta pada almamater, pada kota, bangsa dan negara juga berupa tanggung jawab. Cinta pada Tuhan dan agama juga tanggung jawab yang sama. Tentu kadarnya berbeda-beda, tapi akarnya tetap tanggungjawab yang tulus.

Jadi, itulah jawaban saya sekarang. Bila kamu membaca tulisan ini, jawaban saya sudah cukup jelas. Itulah yang saya pelajari tentang cinta. Mungkin kamu belum puas, itu terserah. Mungkin perasaanmu kepada saya waktu itu juga bukanlah ini, berarti memang benar tidak ada cinta di sana. Tetapi kalaupun benar adanya, itu tidak lagi penting. Perasaan saya waktu itu juga bukanlah tanggung jawab yang tulus.

 

Bandung, di suatu malam yang tenang.